Featured

. Selamat datang di Koran Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta.... Saran dan Kritik Sms ke 081 915 10 9090 .... UKS di Pondok Pesantren Nurul Ummah... Visit   »   NURUL UMMAH - YUSUF MUFTI
Tampilkan postingan dengan label Kelompok 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelompok 1. Tampilkan semua postingan

0 Melalui Sepak Bola, Nurma FC Harumkan Atribut Pesantren



Dalam rangka turut mengharumkan atribut pesantren, para santri putra berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola yang diselenggarakan oleh panitia peringatan satu Muharrom PP. Al-Munawwir Krapyak. Para santri yang ikut serta kompetisi tergabung dalam tim sepak bola Nurma FC. Jumlah pemain yang tergabung dalam tim adalah 22 orang disertai 2 official tim yang resmi didaftarkan pada panitia kompetisi. Pertandingan bola tersebut berlangsung pada hari minggu pukul 15.00 di lapangan Minggiran krapyak. Para suporter yang mengiringi pertandingan menunjukkan antusiame tinggi. Mereka dengan semangat mendukung tim yang sedang bertanding meskipun sebagian besar dari mereka pulang ke pondok terlebih dulu untuk mengikuti pengajian sore sesuai intruksi dari Jenderal Keamanan Pondok yang juga turut hadir di pertandingan.
Menurut informasi dari salah satu pemain, pertandingan kemarin adalah yang kedua setelah pertandingan pertama pada 20 februari 2011. Pada pertandingan pertama tim Nurma FC dipaksa menyerah dengan skor 1-2 saat melawan Komplek L krapyak. Pada pertandingan kemarin mereka juga kurang beruntung dengan hasil akhir 1-1 menghadapi PP. Al-ghorim Krapyak. Menurut Amru, manajer dan pelatih sekaligus merangkap pemain, “ sebenarnya permainan kita sangat bagus. Babak pertama kita mampu mengimbangi bahkan mendominasi permainan mereka. Tapi mental bertanding kita masih perlu diasah.”  Tegasnya.
Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi. Para pemain dari kedua kesebelasan sering beradu badan untuk menghentikan serangan secara bergantian. Wasit pun kerap memperingatkan para pemain dan mengeluarkan beberapa kartu kuning. Salah satunya dijatuhkan pada Erik, seorang striker Nurma FC karena melanggar pemain lawan dengan keras. Pemain kedua kesebelasan juga tidak jarang beradu mulut karena emosi mereka terpancing oleh provokasi satu sama lain.
Pada babak pertama Nurma FC mendapat hadiah penalti setelah striker mereka, Hamdan, diganjal di dalam kotak penalti saat melakukan penetrasi. Tapi sayang kesempatan emas itu terbuang setelah eksekusi penalti dari Erik hanya melayang di atas mistar gawang. Pada menit 23 Nurma Fc unggul lebih dulu melalui gol hasil tendangan Erik yang gagal dibendung kiper lawan. Kemenangan sementara tersebut gagal dipertahankan di menit-menit akhir saat sepakan pemain lawan tidak terjangkau kiper Nurma FC. Faktor kelelahan pemain menjadi penyebab bobolnya pertahanan mereka. Kedua kesebelasan akhirnya berbagi angka 1-1 hingga wasit meniup peluit panjang. (SGHR)
Read more

0 Misteri ‘pemisah dua laut’



Al-Quran merupakan kitab suci umat islam yang diakui kehebatannya dalam mengungkapkan ilmu pengetahuan. Penemuan ilmu pengetahuan tahun 1872-1876 tentang adanya ‘pemisah dua laut’ telah lebih dulu dituangkan dalam Al-Quran beratus tahun sebelumnya. Surah Al-Furqon (25):53 menjelaskan, Dan Dia (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), ini tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.
Ini berarti bahwa ada pemisah yang diciptakan Allah pada lokasi-lokasi bertemunya laut dan sungai itu? Nah, apa yang dimaksud pemisah itu?
Secara sepintas ada yang berpendapat bahwa pemisah yang dimaksud adalah diciptakan oleh Allah laut lebih besar dan banyak airnya dari sungai,dan pada saat yang sama di lokasi-lokasi pertemuan laut dan sungai itu, laut diciptakan dalam posisi lebih rendah dari sungai, sehingga ia tidak dapat bercampur dengan air sungai, sedangkan air sungai karena lebih sedikit dari air laut, walaupun posisinya lebih tinggi, ia tidak dapat menjadikan air laut itu tawar dan segar.
Pendapat ini kemudian dikaji ulang mengingat Al-Quran telah menginformasikan bahwa tuhan melakukan apa yang diistilahkan-Nya dengan ‘maraja al-bahrain’, dan bahwa antara laut dan sungai ada ‘barzakh’ dan ‘hijran mahjûrâ’. Kata ‘maraja’ berarti bercampur, atau terombang-ambing. Kata ‘hijr’ memiliki makna halangan, atau penyempitan, sedangakan kata ‘mahjûrâ’ berarti sesuatu yang terhalang. Maka ‘hijran mahjûrâ’ berarti suatu halangan yang menjadikan apa yang terdapat disana (makhuk hidup) terhalang untuk dapat keluar dari luasnya laut. Penggunaan kata ‘’adzbun furât’ yang tanpa penghubung ‘dan’ menunjukkan bahwa air itu benar-benar tawar dan segar sedang yang lain benar-benar asin yang sangat pahit.Pembahasan ini berarti mengecualikan air yang setengah asin ataupun setengah segar. Allah juga menyebut kata ‘barzakh’ (pemisah) dimana ia berfungsi sebagai penghalang bagi kedua jenis air itu agar tidak bercampur sama sekali. Lalu apa ‘barzakh’ ini?
Pada 1873, para pakar kelautan yang menggunakan kapal ‘Challenger’ menemukan perbedaan ciri-ciri laut dari segi kadar garam, temperatur, dan jenis makhluk hidupnya. Tahun 1948 mereka menemukan bahwa sangat jelas adanya batas-batas air di Laut Tengah yang panas dan sangat asin, dan di Samudra Atlantik yang temperaturnya dingin dan kadar garamnya rendah. Batas itu juga terlihat di Teluk Aden dan Laut Merah. Maka dinamakanlah daerah jenis itu dengan mixed water (daerah barzakh). Adapun area yang jauh dari mixed water area itu tingkat air seragam adanya. Garis pemisah atau barzah yang memisahkan lapisan atas dan bawah itu berupa daya tarik stabil  yang terdapat pada kedua tingkat sehingga menghalangi percampurannya. Fenomena inilah yang dimaksudkan Al-Quran dengan ‘hijran mahjûrâ’. Subhanallah.(emil)
Read more

0 OPINI - PARAMNESIA

Oleh: Mas Jombang

Sebuah istilah asing, apabila hanya dilihat dari barisan abjad yang merangkainya. Tidak cukup hanya mencari tahu esensinya melalui kamus istilah. Penulis bermaksud memahami kata di atas dari kenyataan yang ditandainya. Karena bagaimanapun juga kata hanyalah penandayang sekedar mengantarkan pada realitas petanda.

Aktivitas, kesibukan danrutinitas, penelaahan ini akan berangkat dari tiga kata itu. setiap hari pikiran dan laku kita terjejali agenda yang harus ditunaikan. Bermacam jadwal harus dilakukan sesuai dengan target. Secuil waktu pun menjadi ruang gerak yang mengantar kita pada aktivitas harian untuk sebuah tujuan. Ruang, waktu, tenaga dan pikiran memfasilitasi diri untuk mencapai apa yang dipikirkan. Berulang kali hal itu terjadi hingga mendulang waktu berhari-hari sampai apa yang dibayangkan tercapai. Peristiwa inilah yang nantinya akan melahirkan wujud kata baru yang bermakna lebih tinggi lagi, Kesibukan.

Kesibukan bukanlah istilah yang hanya beredar di sekitar orang-orang “istimewa” saja. Seorang Santri pun dipandang hanyut dalam kesibukan. Entah hal itu dari inspirasi dan motivasi pribadi atau hasil rekayasa entitas di luarnya. Bagi orang penting, kesibukan adalah waktu yang dilalui dengan aktivitas berharga. Orang kaya mungkin mengartikan kesibukan sebagai jalan penuh harta karun yang harus ditempuh. Pandangan santri terhadap kesibukan? tentu tidak dapat digambarkan secara gamblang karena subyektifitas yang erat menjerat pikiran. Juga pengalaman dan motif pribadiantar individu yang berlainan. Pada intinya mereka sama-sama tercebur dalam lautan kesibukan.

Satu hal yang dapat membedakan antara ketiga karakter subyek di atas adalah pemaknaan terhadap rutinitas. Di dalam kehidupan santri sendiri berkembang sebuah stigma rutinitas yang melembaga, aktivitas berulang-ulang dalam intensitas yang batasnya tidak jelas. Cuplikan lirik lagu Mbah Surip dapat sedikit menyinggung ciri khas kehidupan santri tersebut. “ Bangun tidur, Tidur lagi, Bangun Tidur, Tidur lagi, Bangun....”penulis sengaja menyudahi lagu tersebut sebelum akhir lirik sebenarnya agar tidak semakin memperparah luka dari stigma yang menyakitkan tersebut. Bukan bentuk rutinitas yang menjadi fokus perhatian, melainkan bagaimana entitas diri dapat lepas dari rutinitasnya dan memaknai apa yang dilakukannya.

Para Santri tenggelam dalam rutinitas dengan beragam acara dan kepentingan yang didorong motivasi atas tindakannya. Hal itu maklum dan tidak perlu tanda tanya. Tetapi yang menjadi titik miris adalah jika tindakan tersebut dilakukan dengan hilang kesadaran dan tanpa acuan makna yang jelas.Rutinitas dilakukan tanpa arah yang berangkat dari kesadaran. Tindakan yang ditimbulkan bukan dari impuls dan hanya kebiasaan yang terulang. Setiap gerak bukan keinginan pribadi, melainkan spontanitas kontrol eksternal yang mengondisikan tindakan yang harus dilakukan sehingga menyerupakan diri seperti zombie yang melangkah tanpa rasa.

Makna dan kesadaran menjadi hal penting dalam setiap tindakan. Tindakan yang tampak bukan representasi kondisi yang senyatanya, Ia ibarat laut yang memendam rasa asin. Ketika kita melangkah,bicara,memutar isi kepaladan aktifitas dinamis lain, tentu orang luar tidak sepenuhnya tahu maksud kita. Itu adalah sebuah kelumrahan. Tapi sungguh tragis, jika pelaku sendiri tidak sadar dengan tindakannya. Ini bukan persoalan neurologi,apalagi terkait unsur kinetis. Ini adalah penggugatan eksistensi diri manusia. Ada tiga unsur dalam diri manusia yaitu tubuh, pikiran dan jiwa. Manusia dikatakan mengada tatkala ketiganya berpadu dalam setiap geraknya. Satu saja nihil dari paduannya, rentan bagi tindakannya. Keselarasan dibutuhkan darinya agar keharmonisan terpelihara.

Dalam satu aktivitas, orang mungkin masih teringat makna tindakannya. Jika terulang banyak kali, Masihkah pikiran terjaga atasnya? Repetisi dari sebuah kata saja tidak nyaman didengar, bagaimana dengan perbuatan? Tanyakan pada diri sendiri apakah ia masih mengenali apa yang dikerjakannya. Rutinitas terlahir dari motivasi atas tindakan yang terindera. Ke mana tujuan bermuara hanya unsur terdalam individu yang paham. Sungguh fatal apabila eksistensi diri terlebur dalam samudera rutinitas yang alpha kesadaran. Lebih parah lagi, tubuh digerakkan oleh waktu yang seharusnya diatur, bukan sebaliknya.

Tidak perlu menyalahkan rutinitas, yang harus diperhatikan adalah keterjagaan dari kelupaan. Terutama ingatan terhadap apa yang diperbuat dan bagaimana seharusnya makna melekat padanya. Untuk mengejawentahkan ingatan itu dalam tatanan praktis, impulsi dan motivasi terlebih dahulu diselaraskan dengan intuisi. Jika hanya mengandalkan motivasi, apalagi instingsi, tentu makna dari tindakan akan hambar dan berujung pada kebosanan. Tindakan kita bukan hanya hilang makna, lebih riskan lagi tindakan kita justru menyesatkan pelakunya.

Uraiandi atas hanyalah secuil upaya pengakraban terhadap istilah asing tersebut. Dengan menyandarkannya pada realitas, setidaknya maksud dari kata itu terpahami. Paramnesia adalah ketidaksadaran dari tindakan karena cacat ingatan terhadap apa yang dilakukannya. Prioritas utama bukan tertuju pada makna harfiahnya saja, pengamalan dari sebuah kata lebih berharga dari pada sekedar hafal selaksa aksara. Dan itu menempatkan manusia pada locus yang sejatinya. Anda berkuasa mengartikan dan membentuk pengertian menurut preferensi anda sesuai pemikiran yang dipercaya. Tetapi, Yang terpenting adalah jangan kondisikan diri anda dalam pengertiannya yang sudah tersedia.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© KORAN NURMA | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger